Sunday, August 21, 2016

One Day TRAIN: Menjadi Cerdas Saja Tidaklah Cukup!

Apakah kamu pernah, atau bahkan sering, terlambat, tidak menyelesaikan tugas tepat waktu, minim mengambil tanggung jawab terutama sebagai pemimpin, atau ditegur karena perilaku? Tentu beberapa dari kita pernah merasakannya. Apakah salah satu faktornya karena kita tidak paham, bagaimana karakter yang baik itu sebenarnya terdiri dari apa?

Kegelisahan akan minimnya sarana yang befokus dalam pendidikan karakter, menjadi dasar pelaksanaan One Day TRAIN. TRAIN sendiri memiliki kepanjangan “What It Means To Be a Smart and Good Students in FKUI”.

Apa Saja yang Dilakukan?

Kegiatan dilaksanakan sekitar pukul 13.00-21.00 di Salemba, Jakarta Pusat. Sesi dimulai dengan team building untuk saling mengenal dan mengeratkan empat peserta. Selanjutnya, dimulailah diskusi tentang “Menjadi Mahasiswa yang Cerdas dan Baik”, dilanjut diskusi bersama Prof. dr. R. Sjamsuhidajat, SpB-KBD. Sesi ditutup dengan diskusi akhir dan peserta ditugaskan untuk membuat refleksi apa yang mereka dapatkan hari ini.

Tanggapan Peserta terkait One Day TRAIN

Bagus Ramasha Amangku:
Sebagai mahasiswa kedokteran, kami diberitahu agar mengembangkan soft skill dan juga latih diri sendiri agar menjadi dokter yang berkarakter di masa depan. Jadi, waktu-waktu kami di FKUI sekarang jangan diisi dengan belajar saja. Saya setuju sekali dengan perkataan tersebut, karena jika hanya mengandalkan dan mengasah intelegensi saja, akan menjadi bahaya terhadap individual itu sendiri dan juga masyarakat, karena akan membentuk output seseorang yang sangat pintar namun tidak bermoral.”

Muhammad Prasetio Wardoyo
Seorang mahasiswa, yang bukan hanya merupakan wujud kelompok cendekiawan namun juga merupakan bibit-bibit pemimpin bangsa di masa depan, haruslah memiliki intelektualitas dan moral yang baik. Jika kita hanya mengejar intelektualitas tanpa memperhatikan sedikitpun moral, maka kita dapat menjadi orang-orang yang cerdas namun tidak memiliki iktikad untuk menghadirkan kebaikan bagi sekitarnya ataupun bangsanya. Sebaliknya, hanya mengedepankan moral namun meninggalkan intelektualitas akan menghasilkan generasi yang baik namun lemah.”

Fadhli Mahri
Apakah standar dalam menjadi dokter yang cerdas dan baik? Ternyata standar itu telah ada dalam suatu dokumen yang disebut SKDI. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Suatu standar yang dibuat oleh sejawat kita dalam Konsil Kedokteran Indonesia dengan penuh pertimbangan. Salah satu pelajaran besar yang juga saya dapatkan kemarin. Salah satu hal yang juga sangat saya sayangkan karena hal ini bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya.”
Muhammad Qolby Lazuardi
Mengenai afek juga ada hal yang saya dapatkan dari diskusi dengan Prof. R Sjamsuhidajat SpB-KBD kemarin, yaitu bagaimana pembawaan beliau selama berdiskusi membuat dari saya pribadi bisa lebih nyaman untuk berbicara dan mengemukakan pendapat, karena kalau saya perhatikan setiap ada dari kami yang bicara, beliau selalu mengapresiasi pendapat orang tersebut.”

Bagaimana Hasil Evaluasi Pemahaman Peserta?

Evaluasi pemahaman dilakukan dengan pretes dan postes pada peserta. Data disajikan dalam bentuk persentase yang menjawab benar, kecuali disajikan lain.

No.
Pertanyaan
Pretes
Postes
1.
Profesionalisme dan humanisme adalah 2 nilai inti praktik kedokteran
100%
100%
2.
Menurut teman-teman, apa perbedaan antara cerdas dan baik?
Cerdas: otak, cepat dan luas, IQ EQ SQ. Baik menyangkut orang lain, hati nurani, moral.
Cerdas: kemampuan inteklektual, kognitif. Baik: moral.
3.
Apa yang teman-teman pahami mengenai pendidikan karakter?
Mempelajari karakter masing-masing orang. Memperbaiki sifat menyimpang.
Pendidikan yang mengkombinasikan nilai profesionalisme dan humanisme. Memanusiakan manusia sesuai kebenaran dan kebaikan
4.
Di Indonesia, apa indikator universal yang dapat digunakan sebagai basis kegiatan kemahasiswaan agar hasilnya sejalan dengan profesi dokter?
25%
75%
5.
Apa 1 value inti praktik kedokteran menurut kamu?
Pertolongan, integritas, care, empati
Karakter, profesional, empati, integritas
6.
Penerapan sistem masuk Fakultas Kedokteran hanya perlu mengukur kualias kecerdasan
100%
100%
7.
Yang terpenting dalam pendidikan adalah pendidikan humanisme
25%
100%
8.
Pendidikan karakter merupakan tanggung jawab satu-satunya melalui kegiatan kemahasiswaan
75%
75%
9.
Standar dokter di Indonesia menggunakan 5 stars doctor
100%
100%
10.
Di FKUI menggunakan budaya 7 stars doctor
25%
25%

Pesan untuk Kamu

Tahukan kamu, salah satu tujuan pendidikan adalah menciptakan pribadi yang cerdas dan baik? Kecerdasan, dibentuk melalui performance character, dengan dimensi di dalamnya seperti menentukan tujuan, komitmen untuk terus belajar, kreatif, dan inisiatif. Kebaikan, dibentuk melalui moral character, dengan dimensinya seperti saling menghormati, kasih sayang, integritas, keadilan, dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Performa tanpa moral akan menjadi powerful evils.
Moral tanpa performa akan menjadi pathetic angels.

Tahukah kamu, bahwa tujuan dari pendidikan kedokteran sebenarnya mengarahkan mahasiswa mempunya kedua dimensi itu? Hal ini dituliskan dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) 2012.

Gambar 1. Tujuh area kompetensi kedokteran.1

Tujuh area kompetensi ini telah dijabarkan secara rinci dalam komponen masing-masing kompetensi. Sangat penting bagi kita, calon dokter atau dokter Indonesia, memahami apa sebenarnya yang menjadi tujuan pendidikan kedokteran saat ini. Hal-hal seperti empati, merenspon dengan baik umpan balik, terus mengevaluasi diri, memahami aspek biopsikokultural adalah sedikit dari penjabaran tersebut, tentu di samping memahami dengan baik kompentensi klinis sebagai seorang dokter.

            Sebagai catatan, FKUI sendiri dalam Kurikulum Fakultas 2012 memiliki tiga area kompetensi tambahan yaitu (1) riset, (2) pengelolaan kegawatdaruratan kedokteran dan kesehatan, dan (3) manajemen pelayanan kesehatan. Selain itu, FKUI juga memiliki nilai budayanya sendiri, yang disebut dengan nilai budaya FKUI-RSCM.

Gambar 2. Nilai budaya FKUI-RSCM.2

Kelima nilai ini seringkali disingkat dengan I PRO EXCELLENCE CARE (Integritiy, Professionalism, Care for others, Collaborative, Excellence).

Mengapa penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal di atas? Perumusan hal-hal tersebut tentu melalui studi panjang dan pengalaman. Dengan memahami dan mempersiapkan diri, seorang dokter yang ideal serta dibutuhkan bangsa Indonesia adalah hasil yang akan tercapai. Karena, menjadi cerdas saja tidaklah cukup!

Fadhli Waznan
Rizta Aulia Widyana
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Daftar Pustaka:
  1. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta: 2012. p. 1-90.
  2. RSCM-FKUI. Rencana Strategis Bisnis RSCM-FKUI 2015-2019. p. 16.


Wednesday, July 27, 2016

Dyspnea, Ketika Dada Terasa Sempit Bagai Mendaki Langit: Tinjauan Ilmu Sesak dari Al-Quran

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَ رْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآ يَاتٍ لِأُ ولِي الْأَ لْبَابِ (190)
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (Al-Imran: 190)
Dalam setiap penciptaan langit dan bumi, terdapat tanda bagi orang-orang yang berpikir. Di Al-Quran sendiri pun banyak sekali penjelasan tentang hal-hal yang membuat kita berpikir karena substansi ilmiah yang terkandung di dalamnya. Contoh-contohnya terkait bayi yang berada dalam tiga lapisan di perut, nyeri yang terdapat pada lapisan dermis, tahapan embriologis manusia, dan lainnya.
Salah satu yang akan di bahas kali ini terkait Q.S. Al-Araf: 125. Sebagai pendahuluan, tentu kita pernah merasakan sesak bukan? Sesak yang terasa seperti sempitnya dada, membuat kita menjadi sulit bernapas. Sesak sendiri dalam bahasa medis dikenal dengan istilah dyspnea, atau "rasa tidak nyaman yang disadari saat bernapas."
Banyak hal faktor yang dapat membuat kita terasa sesak. Dalam keadaan fisiologis, misal jika kurang darah, atau napas kita tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen, atau saat terjadi ketidakseimbangan asam-basa tubuh.

Faktor psikologis barangkali yang lebih sering kita rasakan sehari-hari menjadi penyebab sesaknya kita. Semisal, saat kita merasa sangat overload berujung stres, mendapat masalah yang bertubi-tubi, atau merasa banyak kesalahan dalam diri kita. Penyebab lain tentu kita merasa sesak saat kita mengetahui bahwa ternyata kita merasa paling benar atau sulit menerima kebenaran, padahal sebanarnya kita salah, dan tidak mampu menemukan petunjuk yang benar, di saat ternyata orang lain mampu mengetahui mana yang benar.


Dalam QS. Al-Araf: 125 Allah berfirman.
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (125)
"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (Al-Araf: 125)
Begitupun Allah menggambarkan apabila Ia menghendaki kesesatan pada diri seseorang, sehingga orang tersebut tidak mampu mengetahui kebenaran, seolah-olah dadanya sesak dan sempit. Dalam penjelasan Ibnu Katsir, dikatakan bahwa orang yang diberi kesesatan itu "tidak mampu menjangkau suatu kebaikan," Sehingga apabila ia mengetahui bahwa ia seperti itu, tentu yang ada baginya adalah penyesalan, kesediahn, dan secara fisiologis akan membuatnya menjadi sesak (akibat psikologis).
Pertanyaan utamanya, tentu adalah mengapa "sesak lagi sempit" tersebut juga diumpakan seperti seseorang yang sedang mendaki ke langit? Apakah jika kita mendaki, kita juga dapat merasa sesak? 

Penjelasan lebih lanjutnya mari kita ingat-ingat kembali. 


Mengenal Blaise Pascal, Ilmuwan yang Berjasa terhadap Tekanan Atmosfir


Satuan Pascal (Pa) dinamai berkat jasa pemikirannya untuk memahami tekanan atmosfer dan perubahannya yang dapat diperkirakan dalam perubahan ketinggian. Penemuan ini ia dapatkan lewat eksperimennya tahun 1640-an dengan menyempurnakan teori Evangelista Toricelli. (2).



Semakin Tinggi Suatu Tempat, Semakin Rendah Tekanannya

Normalnya, pada ketinggial 0 meter di atas permukaan laut (DPL), tekanan udara adalah 1 atm atau 760 mmHg. Tekanan ini akan semakin menurun seiring dengan meningkatnya ketinggian, salah satunya karena pengaruh suhu. Pada ketinggian 1000 kaki DPL (305 m), tekanan udara adalah 733 mmHg. (3) 


Proses Bernapas Normal



Pada gambar tersebut, dapat terlihat bahwa terdapat tiga macam tekanan yang bekerja dalam tubuh kita. Tekanan-tekanan ini akan saling mempengaruhi agar udara bisa masuk ke paru dan memunkingkan terjadinya pertukaran oksigen, dengan prinsip udara akan berpindah dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. (4)





Saat inspirasi (proses udara masuk), rusuk akan tertarik ke atas sehingga membuat rongga dada membesar. Sesuai dengan hukum Boyle, semakin besar volume maka akan berbanding terbalik dengan tekanan yang semakin menurun. Akibatnya, terjadi perbedaan tekanan antara atmosfir (760 mmHg) dengan tekanan dalam alveolus (tempat bertukarnya gas lingkungan dengan tubuh, senilai 759 mmHg). Hal ini membuat udara otomatis akan masuk ke dalam paru. Proses berkebalikan terjadi saat ekspirasi (proses udara keluar). (4) 



Lalu, Mengapa Terjadi Rasa Sesak dan Sempit di Dada?


Rasa sesak saat bernapas (breathing difficulity) memang tidak memiliki definisi standar. Akan tetapi secara umum kondisi ini dapat terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup, akan terasa sesak, sehingga terjadi respon alami tubuh untuk bernapas megap-megap (breathlessness). (5)


Ketika kita berada di tempat yang semakin tinggi maka tekanan udara akan semakin rendah, padahal kondisi tekanan paru kita tetap. Hal ini menyebabkan udara yang masuk ke dalam paru semakin sulit, pertukaran udara terganggu, sehingga oksigen yang didapatkan tubuh pun berkurang. Kondisi ini akan menyebabkan hipoksia (kurang oksigen), yang berujung pada sesak. 


Untuk mengimbangi kebutuhan oksigen agar tetap tercukupi, maka salah satunya rongga paru harus mengembang lebih besar agar tekanan di dalam rongga paru semakin kecil sehingga tetap tercipta perbedaan tekanan antara atmosfir dan alveolus, berujung pada semakin banyaknya udara yang masuk. Kita akan merasakan rongga paru yang awalnya cukup saat napas di kondisi normal, terasa "sempit" karena harus mengompensasi kebutuhan oksigen yang lebih banyak. Tubuh juga akan berusaha meningkatkan frekuensi napas, meningkatkan banyaknya udara yang dihirup, atau juga dalam jangka panjang meningkatkan produksi sel darah merah dan hemoglobin. Apabila kondisi hipoksia ini tidak mampu tertangani, dapat timbul komplikasi salah satunya berupa high altitude pulmonary edema (HAPE).


Al-Qur’an Telah Berbicara Hal Ini 14 Abad Lalu

 
Salah satu Qur’an tertua yang telah dibukukan sempat berada di Universitas Birmingham untuk diuji keabsahannya. Berdasarkan analisis radiokarbon, diketahui bahwa teks ini ditulis antara tahun 568-645 M, mirip dengan masa hidup Nabi Muhammad antara 570-632 M. (6)
Ternyata, Quran telah menjelaskan fenomena fisiologis sesak yang diakbiatkan naik ke dataran tinggi sejak sejak 14 abad (tahun 700-an) yang lalu. Dalam keilmuan, fenomena peningkatan tekanan dan proses fisiologis ini setidaknya baru kita ketahui pada tahun 1640-an, saat Pascal menjelaskan eksperimennya. Setidaknya bagi manusia, butuh waktu dalam menjelaskan ilmu yang ada di Al-Quran, 9 abad kemudian.


Kesimpulan


Terdapat beberapa hal yang dapat kita simpulkan dari pemaparan di atas.
1. Bahwa kondisi tersesatnya kita, karena tidak mendapat petunjuk dari Allah, dijelaskan bagai dada yang sesak dan sempit. Tidak mampu menerima kebenaran, dan terasa sedih lagi menyesal apabila tersadar. 
2. Bahwa analogi sesak dan sempit tersebut telah dianalogikan bagai naik ke tempat yang tinggi. Secara ilmiah, memang manusia akan semakin sulit bernapas pada tempat yang semakin tinggi. Hal ini akhirnya dibuktikan secara ilmiah setidaknya 9 abad sejak Al-Quran diturunkan.

Wallahu’alam.

“So which of the favors of your Lord would you deny?”
Q.S. Ar-Rahman: 13

Referensi:
  1. Al-Quran.
  2. Biography.com. Blaise Pascal Biography. [internet]. [cited 27 July 2016]. Available on URL: http://www.biography.com/people/blaise-pascal-9434176
  3. The Engineering ToolBox. Altitude above Sea Level and Air Pressure. [internet]. [cited 27 Juli 2016]. Available from URL: http://www.engineeringtoolbox.com/air-altitude-pressure-d_462.html
  4. Sherwood L. Human Physiology From Cells to Systems. 7th edition. Belmont; Brooks/Cole: 2010. Chapter 13. p. 461-71.
  5. Hadjilidiadis D. Breathing difficulty. [internet]. 22 June 2015 [cited 26 July 2016]. Available from URL: https://medlineplus.gov/ency/article/003075.htm
  6. University of Birmingham. Birmingham Qur’an manuscript dated among the oldest in the world. [internet]. 22 July 2015 [cited 26 July 2016]. Available from URL: http://www.birmingham.ac.uk/news/latest/2015/07/quran-manuscript-22-07-15.aspx










Thursday, April 28, 2016

Hebatnya Negeri Kita, Indonesia Tercinta

Hebatnya Negeri Kita, Indonesia Tercinta!

Bagaimana tidak? Di saat negara lain takut, kita dengan berbangga mengadakan Pameran "World Tobacco Processing Machinery". Tak sembarang bung penyelenggaraan ini! Hanya yang terpilih, 4 negara dari 4 benua berbeda. Berbanggalah, karena kita lah perwakilan dari bumi Asia!

Janganlah kau tanya lagi acara apa itu. Pameran modernisasi alat-alat industri rokok, sudah pasti. Maka ucap selamat tinggal buruh rokok yang tidak seproduktif mesin Tak perlu dipikirkan akan bagaimana nasib mereka. Hebat nian memang. Di saat negara lain berlomba-lomba meng-invent teknologi kedokteran, kita tak mau kalah menginternalisasi teknologi terbaru pertembakauan.

Rokok rasa buah, wah sedap pastinya? Salah satu terobosan WTPM nanti, khusus untuk kamu anak-muda-gaul. Agar tak sekedar meningkat 1,5% dalam 3 tahun perokok 10-hingga-14-tahun-kita. Bukankah generasi muda generasi penerus bangsa? Prestasi-prestasi baru harus diciptakan! Hebat :)

Kehebatan lainnya? Dari 4 negara penyelenggara, hanya kita yang belum aksesi FCTC (Framework Convention of Tobacco control), regulasi pengendalian tembakau skala internasional. Satu-satunya negara di Asia yang belum loh, hebat bukan?

Memang industri tembakau ini sangatlah menguntungkan. Sebut saja zat-zat asyiknya. Karbonmonoksida, yang juga ada di knalpot kendaraan bermotor. Arsenik, zat utama insektisida. Karsinogen ini siap mempercepat kita menghadap Yang Maha Kuasa. Brilyan! Langkah kreatif untuk mengendalikan jumlah penduduk mungkin? Tentu tak usah kita 'mention' rugi 6T BPJS-K karena tersedot penyakit-berfaktor-risiko-rokok ini. Ah, rasio 'cost-benefit' yang tak seberapa!

Maka tak usahlah kau ingat-ingat janji mereka di WTA 2012 yang tidak akan lagi menyenggarakan ini di Indonesia, karena dipenetrasi mahasiswa. Bung, ini prestasi! Hebatnya prestasi (bobrok) negeri kita, INDONESIA TERCINTA :)

Fadhli Waznan
Ketua BEM IKM FKUI

(Referensi: bit.ly/kajianWTPM dan lainnya)

*sebuah tulisan untuk menolak World Tobacco Processing Machinery (pameran rokok dan teknologi terbaru yang akan menggantikan buruh-buruh dan meningkatkan jumlah perokok) 27-28 April 2016 di Jakarta.

Sunday, June 14, 2015

Kontroversi Vaksinasi: Bagaimakah Hukumnya?

Bismillahirrahmanirrahim. Coba ikut membahas, salah satu teknis kesehatan yang saat ini masih sering mengalami pro-kontra di kalangan umat Muslim. Tulisan ini berdasarkan kapasitas yang penulis miliki dengan ditunjang referensi yang ada.

Sejarah

Sebelumnya mari sedikit membahas tentang sejarah imunisasi, siapakah sebenarnya yang pertamakali mengaplikasikan konsep ini?

Ternyata konsep imunisasi pertamakali telah dipraktekkan oleh Kekhalifahan Turki Utsmani. Tekniknya menggunakan prinsip inokulasi (memaparkan/mengoleskan/menginjeksikan spesimen seperti darah/cairan ke luka orang yang ingin dikuatkan sistem imunnya), yang mana tercatat dalam sejarah pada 1670, anak-anak diinokulasikan dari spesimen sapi yang terkena cacar. Luka tersebut kemudian dibalut dan anak-anak mungkin akan mengalami gejala demam selama beberapa hari, tetapi setelah itu sembuh dan kebal terhadap cacar. (1)

Inilah salah satu bukti kemajuan penemuan medis dalam Islam.

Teknik ini kemudian dibawa ke Inggris oleh istri duta besar Inggris untuk Turki pada 1717. Lady Mary Wortley Montague yang melihat teknik ini di Istanbul, mengabarkannnya kepada dokter kerajaan Inggris dan mencobanya kepada enam tahanan di Newgate, pada 1721. Hasilnya, tahanan ini terbukti kebal terhadap cacar. Teknik ini pun mendapat pengakuan luas. Pada 1798, Edward Jenner, bapak vaksinasi yang dikenal saat ini, mempublikasikan penelitiannya tentang anak yang ia inokulasikan dengan cacar dari seorang wanita. Hasilnya, ketika anak tersebut menderita demam tetapi kemudian sembuh. Setelah itu, ia mencoba kembali menginokulasikan, dan ternyata tidak ada efek apapun yang terjadi pada anak tersebut. Teknik ini kemudian disebut vaccination (vaccinia = cowpox). Kemudian, teknik ini menyebar secara luas ke seluruh Eropa. (1)

Apakah Sebegitu Dahsyat Efek Imunisasi?


Pembaca dapat melihat sendiri, bagaimana tingkat prevalensi (penyebaran penyakit) sebelum dan sesudah vaksin diperkenalkan. Bahkan, efeknya mengeradikasi penyakit hingga 100%. Sungguh dahsyat efeknya bagi dunia kesehatan. Begitupula terhadap meningitis, penyakit mematikan yang menyerang cairan di sekitar otak. Berita mengatakan, penyebab salah satu artis di Indonesia meninggal yang sempat heboh. (2)


Itulah sebabnya Kementrian Kesehatan mewajibkan imunisasi dasar bagi bayi yang baru lahir.



Lantas, bagaimana hukum vaksinasi, terutama dari segi hukum dalam Islam? 

Apalagi katanya beberapa vaksin mengandung babi dalam bahan pembuatannya. Mari kita bahas hal tersebut.

Benarkah Masih Mengandung Babi?

Tripsin babi merupakan enzim yang digunakan dalam proses pembuatan beberapa produk kesehatan. Fungsi utamanya adalah untuk memisahkan sel (antigen) dari media kultur. Dalam pembuatan beberapa vaksin, tripsin juga ditambahkan pada tahap final produksi kultur virus sebagai aktivator, seperti pada virus influenza dan rotavirus. Pada pembuatan protein rekombinan seperti insulin, tripsin juga digunakan untuk reagen pembelah-protein. Tripsin ini juga digunakan untuk vaksin meningitis. Tripsin diekstraksi dari pankreas babi. Sebelum diekstraksi, perlu dipastikan menggunakan babi yang sehat dan setelah diekstrak, perlu dites untuk menjamin bebas dari kontaminasi apapun (seperti bebas bakteri, dan lainnya). (3)

Maka di sini dapat disimpulkan beberapa vaksin yang "bahaya", yaitu meningitis, influenza, dan rotavirus. Bagaimana vaksin lainnya? BCG (pencegah TBC), Hepatitis, DPT (Difteri Pertussis, Tetanus), Polio, dan MMR (Campak, Gondok, Rubella) merupakan vaksin yang bebas dari bahan babi. (4)

Lalu sebenarnya tripsin babi itu digunakan dalam proses apa?

Produksi dimulai dengan sejumlah sedikit virus (spesimen) yang harus murni, bebas dari virus yang mirip ataupun variasi dari virus yang sama. Virus kemudian dibuat dorman (tidur dan tidak melakukan aktivitas) dengan dibekukan. Ketika siap, dihangatkan dengan dibiarkan pada suhu ruang. (5)

Selanjutnya, virus dibuat bereplikasi dengan ditempatkan pada medium yang cocok, tergantung virusnya, tetapi semua medium mengandung protein seperti protein dari darah sapi. Medium dan kontainer tempat membiakkan virus mesti dijaga pH dan temperaturnya. (5)

Virus kemudian dipisahkan dari mediumnya dan ditempatkan pada medium lain untuk pertumbuhan tambahan. Di sinilah salah satu peran tripsin, untuk menstimulasi pertumbuhan sel virus. Tripsin juga digunakan untuk memisahkan virus dari mediumnya, berperan sebagai katalisator tanpa ikut bereaksi, karena itulah sifat dasar enzim. (5)

Virus kemudian akan melalui ultrafiltrasi berkali-kali, untuk memastikan hanya bahan virus yang tersisa. Virus kemudian dapat dilemahkan (attenuated) atau dimatikan, dan dikombinasikan. Setelah itu, dapat ditambahkan bahan-bahan agar dapat diinjeksikan, tergantung safety, sterility, dan stability. Tentunya setelah itu melalui quality control yang sangat ketat untuk memastikan keamanannya. (5)

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan tripsin dilakukan tanpa ikut bereaksi dan vaksin pun mengalami proses ultrafiltrasi untuk memastikan bebas dari bahan selain virus. Kesimpulannya, tidak ada tripsin babi yang terbawa. Kenapa tidak memakai tripsin lain seperti sapi? Karena pembuatan vaksin sangatlah spesifik, enzim yang satu belum tentu cocok digunakan untuk vaksin yang lain. Penggunaan tripsin sapi pada jenis-jenis vaksin di atas akan mengubah proses produksi. (6)

Lalu, Bagaimana Pembahasan dari Sudut Pandang Agama? 

Perlu kita sadari, memang pada zaman nabi, vaksinasi ini belum muncul, sehingga diperlukan ijtihad dalam menentukan hukumnya. Mari kita bahas beberapa aspek yang dapat dijadikan 
bahan berdiskusi kita.

Istihalah

Adalah berubahnya benda najis atau haram menjadi benda lain yang berbeda sifat maupun namanya. Sebagai contoh, madzhab Syafi'i mengatakan arak dan juga tempatnya menjadi suci apabila ia menjadi cuka dengan sendirinya. Sebagai catatan, najisnya arak ini hilang karena sifat mabuknya yang telah hilang. (8)

Dalam hal ini, vaksin yang berasal dari tripsin babi yang kita khawatirkan najis, telah melalui proses ultrafiltrasi, penyaringan sampai level molekuler, berkali-kali. Hal ini tentu telah mengubah sifat tripsin babi tersebut, yang mungkin kita khawatirkan tertinggal, dengan proses penyaringan.

Istihla'

Adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lain yang suci dan halal sehingga sifat najis dan haramnya dihilangkan, dengan hilangnya rasa, bau, dan warna. Air, sebagai komponen penyusun utama tubuh kita, memiliki kemampuan dalam mensucikan sesuatu. (7)

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radliallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya air itu suci tidak ada sesuatupun yang dapat menajiskannya” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidziyy, Nasaa-i, dan telah dishahihkan oleh Ahmad)

Dari Abu umamah al-Bahiliy radhiyallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya air itu tidak dinajisi oleh sesuatupun kecuali jika (najis tersebut) merubah baunya, rasanya, dan warnanya”. (Diriwayatkan oleh Ibnu majah dan dinyatakan dhai’f (lemah) oleh Abu hatim. Walaupun begitu, para ulama sepakat, termasuk Al Imam Asy-Syafi'i.



Dalam hal ini, komponen vaksin yang kita khawatirkan najis tersebut, memiliki jumlah yang sangat sedikit. Vaksin ini kemudian akan bercampur dengan darah kita (darah kita 55%-nya disusun plasma darah dengan 90% penyusun plasma darah tersebut adalah air), sehingga tidak akan mengubah sifat warna, bau, dan rasa dari air tersebut.


Manfaat vs Mudharat

Kita telah membahas manfaat dan efikasi dari adanya vaksin, yang mengurangi begitu banyak angka kematian penyakit mematikan seperti hepatitis, tetanus, difteri, dan batuk rejan. Dalam hal ini, kembali ketika kita menganggap bahwa vaksin haram, maka sungguh penggunaannya lebih bermanfaat, dalam mencegah kematian. Bukankah kematian karena keputusasaan kita tanpa berusaha, akan mendapat dosa yang lebih berat?

Yusuf Al-Qardhawi, ulama kontemporer Mesir, dalam bukunya Fatwa-Fatwa Kontemporer yang juga dinukil dari Syekh Islam Ibnu Taimiyyah, dalam kitab Majmu'ul Fataawaa jilid 30 halaman 48-61, mengatakan bahwa jika terjadi pertentangan antara kebaikan dan keburukan karena tidak mungkin dipisahkan, maka tindakan perlu diambil. Dalam hal ini, vaksin didasarkan pada dua hal: (1) lebih bermanfaat dibanding kerugian yang diperoleh dan (2) mencegah kerugian yang lebih besar.

Mari kita perhatikan arti dari ayat berikut

Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Baqorah : 173 )

Allah Tidak Membebani Seseorang Melainkan Sesuai Kesanggupannya

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”(QS. Al-Baqarah/2 : 286) 

Mari kita bahas beberapa kisah di Zaman Rasulullah SAW 
yang relevan dengan kasus di atas.

1) Menggunakan Sutera bagi Laki-Laki dalam Kondisi untuk Meringankan Penyakit

“Nabi s.a.w. pernah memberi izin kepada Zubair bin Awwam dan Abdurrahman bin Auf untuk memakai kain sutera karena penyakit gatal yang dideritanya.” (H.R. Bukhari No. 5391 dan No. 2703, Nasa’i No. 5215 dan No. 5216, Tirmidzi No. 1644). 

Hal ini sesuai dengan hadits berikut,


“Rasulullah s.a.w. pernah mangambil sutera lalu meletakkannya pada sisi kanannya, dan mengambil emas lalu meletakkannya pada sisi kirinya. Kemudian beliau bersabda: “Sesugguhnya dua barang ini haram bagi umatku yang laki-laki.” (H.R. Abu Daud No. 3535)

Hal ini disebabkan, sutera dapat meringankan penyakit gatal karena ventilasi mikro yang dimiliki dan tidak menimbulkan alergi. (http://www.skintherapyletter.com/2012/17.3/2.html)

2) Mandi Junub Justru Dilarang Ketika Membahayakan. Cukuplah Bertayamum


Dari Jabir ra berkata,"Kami dalam perjalanan, tiba-tiba salah seorang dari kami tertimpa batu dan pecah kepalanya. Namun (ketika tidur) dia mimpi basah. Lalu dia bertanya kepada temannya,"Apakah kalian membolehkan aku bertayammum ?". Teman-temannya menjawab,"Kami tidak menemukan keringanan bagimu untuk bertayammum. Sebab kamu bisa mendapatkan air". Lalu mandilah orang itu dan kemudian mati (akibat mandi). Ketika kami sampai kepada Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu, bersabdalah beliau,"Mereka telah membunuhnya, semoga Allah memerangi mereka. Mengapa tidak bertanya bila tidak tahu ? Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya. Cukuplah baginya untuk tayammum.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majag, Daruquthuni dan disahihkan oleh Ibnu Sakan).

Kita tentu tahu ketika mimpi basah, adalah wajib hukumnya dalam melaksanakan mandi wajib. Tetapi hal ini tidak dibenarkan dalam kondisi seperti di atas, karena justru air membahayakan orang tersebut hingga menyebabkan kematian, dan Rasul pun menegur sahabat.

Kesimpulan

Sisi Ilmiah

Pertama, dari sisi medis. Vaksin memiliki manfaat yang sungguh besar. Perannya mematikan berbagai macam penyakit yang dapat membunih manusia.

Kedua, vaksin yang terkandung di dalam proses pembuatannya tripsin babi adalah meningitis, influenza, dan rotavirus. Sisanya insyaAllah bebas dari tripsin babi.

Ketiga, tripsin ini digunakan tanpa ikut bereaksi untuk memisahkan virus dari mediumnya. Selain itu, vaksin mengalami proses ultrafiltrasi untuk memastikan bebas dari bahan lain selain yang dibutuhkan.

Sisi Agama. Dalam hal ini ketika kita masih menganggap, tripsin babi terkandung di dalam vaksin.

Pertama, ketika mengalami proses filtrasi dan tahapan pembuatan berkali-kali, hal ini mengubah komposisi tripsin babi yang ada sehingga menghilangkan sifat najis. Sesuai dengan konsep istihala.

Kedua, dinetralisirnya tripsin tersebut dalam tubuh kita yang mengandung sangat banyak komposisi air dibanding jumlah tripsin, maka hal ini tidak akan menghilangkan sifat bau, warna, dan rasa dari air. Sesuai dengan konsep istihla'.

Ketiga, bahwa dengan vaksin kita mencegah keburukan yang lebih besar yaitu sakit serta kematian dan mengambil kebermanfaatan yang lebih besar yaitu kesehatan. Sesuai dengan fatwa yang ada.

Keempat, dalam kondisi khusus hal-hal yang sifatnya mendadak dan justru merugikan jika kita lakukan.

Maka, vaksin/imunisasi adalah hal yang Halalan Thoyyiban. Saya pribadi setelah mempelajari hal tersebut, sangat merekomendasikan, jika tidak bisa dibilang mewajibkan. Wallahualam.

Evaluasi Untuk Kita

Memang tidak dapat dipungkiri, teknologi yang ada saat ini belum bisa menunjang menjalankan ibadah dengan nyaman. Banyak penemuan yang dilakukan oleh orang-orang yang bukan Islam, sehingga hal seperti ini tidaklah menjadi pertimbangan. Umat Islam mesti waspada, itu pasti, dan harus berhati-hati dengan memiliki ilmu yang ada. Ilmuwan, dokter, apoteker, mikrobiologist, dan profesi lainnya perlu sama-sama menciptakan vaksin yang aman dan bebas dari hal-hal yang meragukan, sehingga umat merasa aman dan manfaat dapat dirasakan. Dan sudah menjadi kewajiban bagi kita semua, menjadikan Islam adalah agama yang bermanfaat bagi semesata alam.

(Nomor di setiap akhir paragraf merupakan referensi sesuai teknik Vancouver).
Referensi:

1. Riedel S. Edward Jenner and the history of smallpox and vaccination. Proc Bayl Univ Med Cent. 2005 Jan;18(1):21–5. 

2. Immunization Vaccine Effectiveness | WhiteCoat’s Call Room [Internet]. [cited 2015 Jun 14]. Available from: http://www.epmonthly.com/whitecoat/2010/11/are-vaccines-effective/immunization-vaccine-effectiveness/

3. Eropean Medicines Agency. Guideline on the use of porcine trypsin used in the manufacture of human biological medicinal products. [internet]. 21 February 2013. [cited 14 June 2015]. Available on URL: http://www.ema.europa.eu/docs/en_GB/document_library/Scientific_guideline/2013/03/WC500139532.pdf

4. CDC. Vaccine Excipient & Media Summary. [internet]. February 2015. [cited 14 June 2015]. Available on URL: http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/appendices/B/excipient-table-2.pdf

5. How Products are Made. Vaccine. [internet]. [cited 14 June 2015]. Available on URL: http://www.madehow.com/Volume-2/Vaccine.html

6. IDI: Vaksin Indonesia Tak Mengandung Babi - Kompas.com Health [Internet]. [cited 2015 Jun 14]. Available from: http://health.kompas.com/read/2013/12/13/0813589/IDI.Vaksin.Indonesia.Tak.Mengandung.Babi.

7. Wahdah A. Air Banyak Yang Tercampuri Najis Menjadi Najis Bila Berubah Warna, Rasa dan atau Baunya [Internet]. Wahdah Islamiyah Indonesia. [cited 2015 Jun 14]. Available from: http://wahdah.or.id/air-banyak-yang-tercampuri-najis-menjadi-najis-bila-berubah-warna-rasa-dan-atau-baunya/

8. Pandangan Islam tentang Imunisasi | M. Danusiri [Internet]. [cited 2015 Jun 14]. Available from: http://danusiri.dosen.unimus.ac.id/materi-kuliah/kebidanan/pandangan-islam-tentang-imunisasi/

Tuesday, January 6, 2015

Sungguh Sebuah Teguran

"Wahai manusia, mengapa engkau begitu sombong? Apakah kamu lupa untuk apa kamu diciptakan?"


Kita itu memang makhluk yang unik. Sebagai manusia, kita tau apa yang seharusnya dilakukan, normatif, apa yang salah maupun benar, dan mudah saja bagi kita untuk memberikan saran-saran tentang kehidupan yang lebih baik kepada orang lain. Tapi, kita begitu khilaf hingga ketika semua itu diterapkan ke kehidupan sendiri, semua begitu sulit bagai menguap. Excuse yang sering terjadi adalah malas, khilaf, atau bahkan memang merasa tak sanggup.

Padahal, tentu tak asing bagi kita, sebuah janji Dzat Yang-Akan-Senantiasa-Menepati-Janji

"Kami tidak membebani seorang hamba melainkan sesuai kesanggupannya.,.." (Al-Qur'an)

Ya, kita tau teorinya. Hafal dalilnya, di luar kepala bunyinya. Tapi, saat menghadapi realita entah kenapa semua menjadi goyah, seakan kita tidak yakin ini benar-benar terjadi. Atau, pernah kah merasa begitu sombong, begitu pintar, menapak tilas balik semua yang telah kita capai rasanya gampang saja melewati ujian yang akan datang. Bahwa kita begitu meremehkan, hingga teguran datang untuk menyadarkan.

Betul, mungkin itulah yang terjadi pada diri ini.

Hidup di FK memang tidaklah mudah dan tidak pernah mudah. Mengorbankan waktu tidur, waktu pribadi, persaingan yang ketat, mengembangkan diri, bukanlah kabar burung. Tetapi mitos bahwa itu semua akan akan mudah dan menyenangkan jika dinikmati, pun benar adanya. Bahwa di sini ada begitu banyak teman yang menggapai mimpi yang sama dan berjuang bersama. Satu hal yang mungkin kita sering salah, terlalu bergantung pada diri sendiri dan manusia hingga melupakan bahwa Dia-lah yang menentukan segalanya.

Tetapi jika semua keinginan tercapai tanpa adanya rintangan, tanpa teguran, tanpa kegagalan, di mana letak manisnya hidup saat kita berhasil? Semua kembali ke keyakinan atau idealisme, yang tetap menjaga kita dari keputusasaan dan resistensi seberat apapun cobaan hidup.

Jangan pernah lupa dan saling mengingatkan, seberapa besar pun usaha kita, segala keputusan ada di tangan-Nya. Maka jelas kah kepada siapa utamanya kita harus bergantung?

Sebuah teguran. Maka bermanfaatlah bagi siapa yang mengambil pelajaran. Depok, 31 Desember 2014.

"Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6)