Sunday, January 27, 2013

Random Thoughts

Knowledge, learning. Applying, implanting. World and life. Every words those can't be seperated each others. Sometimes, everythings in the world can be counted by math. Every process, occasion, and something mystical can be explained by physics. Every chain reaction and genesis, let chemistry to answer it. And those living things, depend on each other, of course the law of biology. Every words that we spoke, spelled, communicated with each others, because of the language that we learn. Interrelated, connecting some with others.

GOD, of course, the one who made it. Balanced. Impartial


Everything are beautiful, if we can always learn it, mastering it. Maybe thats why scientists, professor, very enjoying their jobs, knowing the meaning of life, the beautiful of nature's balance.

Saturday, January 19, 2013

Kepentingan dan Kewajiban Pengendara: SIM C Jalur Resmi Kota Depok

Sudah sekian lama tidak mengurusi dan membesuk blog ini, akhirnya terbengkalai karena alasan yang sebenarnya tidak bisa dibetulkan juga, tapi baiklah, kali ini saya akan menceritakan sebuah pengalaman mengenai pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM C) baru di Depok.


Hari itu hari Jumat di pekan pertama tahun 2013. Sebagai seorang pelajar yang menunggangi motor, sudah sepatutnya memiliki SIM sebagai kelengkapan berkendara. Tapi umur menjadi problema, hingga baru saat itulah bisa memenuhi kewajiban yang penting ini.

Lokasi pembuatan SIM di depok ada dua, di pasar segar, Jl. Tole Iskandar dan di Kantor Polres Depok, depan ITC Depok/Walikota Depok. Awalnya saya menuju pasar segar, berbekal niat untuk membuat SIM secara wajar sebagai warga negara Indonesia yang baik, tapi saat bertanya pada satpam, dikatakan bahwa disni hanya melayani perpanjangan SIM, atau 'bayar lebih' tanpa tes, karena tes mengemudi hanya dilakukan di polres depok. Saya yang tidak tahu menahu mengenai dimana lokasi sebenarnya, akhirnya memutuskan untuk ke polres depok, karena niat awal memang ingin membuat SIM melalui jalur yang benar, tanpa 'bayar lebih'.

Singkat cerita akhirnya saya diwajibkan memenuhi kelengkapan berkas di Polres Depok. Pembuatan SIM dimulai pukul 08.00 WIB hari Senin-Sabtu (saya kurang tahu jika hari Minggu/libur). Kelengkapan berkas tersebut diantaranya:
1. Fotokopi KTP 2x
2. Membayar uang cek kesehatan di poliklinik polres Depok +/- 35.000
3. Membeli dan mengisi formulir + asuransi +/- 120.000
4. Niat kuat dan ikhlas

Sehingga total uang yang dihabiskan sekitar 155.000, dan tidak akan ada uang tambahan jika kita mengikuti alur sesuai prosedurnya. Alhasil, saya kemudian perlu mengikuti tes tertulis. Tersedia 30 soal, salah maksimal 12 soal. Lebih dari itu kita harus mengulang paling cepat 7hari kemudian.

Materi soal ujian SIM bisa di download disini. Dan benar saja, soal yg keluar +/- 100% sama dengan kumpulan soal yg banyak beredar di internet. Alhamdulillah saya lulus, dan harus menuju tes kedua, tes praktik. Saya menunggu hingga dipanggil untuk ujian praktik sekitar pukul 10.30.

Dan disinilah tantangan dimulai. Horor mengenai sulitnya ujian praktik memang sudah beredar luas, karena dikenal tingkat kesulitan dan banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan kegagalan. Hari itu ada -/+ 5pria (termasuk saya) dan 1wanita yang ikut ujian praktik, tentunya dari sekian banyak orang yang ada di tempat pembuatan SIM, kita dapat menarik kesimpulan sendiri.

Peraturannya sederhana. Kita hanya perlu melewati trek yang telah diberi batas/patok kayu tanpa menjatuhkannya, dan kaki tidak boleh jatuh/menyentuh tanah saat berkendara. Kita dipinjamkan motor khusus ujian SIM dari polisi (Saat itu Suzuki Shogun). Hanya ada satu kali kesempatan bagi setiap orang. Jalurnya kurang lebih seperti ini


Sekilas memang terlihat mudah, tapi percayalah banyak faktor yang bisa menyebabkan kegagalan disini. Dan benar saja, dari semua yang praktik, tak ada satupun yang lolos, termasuk saya (grogi dan kehilangan keseimbangan karena belok terlalu patah kaki saya menyentuh tanah), hanya satu-satunya wanita yang berhasil lolos. APA? Ya, akhirnya saya harus mengulang dua minggu lagi. Cobaan yang berat memang mengingat sebagai mahluk tingkat akhir SMA memiliki waktu luang yang tidak banyak.

Tapi itu tidak membuat saya patah semangat. Berbekal pengalaman , saya datang lagi dua minggu kemudian di hari Sabtu, tepat hari ini, dengan bermodalkan latihan satu jam sebelumnya di lapangan.

Saya tiba di polres sekitar pukul 10.30 dan dipanggil untuk praktik sekitar pukul 11. Tanpa membayar uang sepeserpun lagi, karena jika hanya sebatas gagal tes diberi kesempatan mengulang dengan menunjukkan surat keterangan gagal tes praktik (lebih dari sekitar dua minggu maka hangus, harus bayar dan ikut prosedur ulang). Alhamdulillah, dari 4pria saya lolos, dan menunggu giliran untuk masuk ke ruang foto, tahap terakhir sebelum akhirnya SIM C ada di tangan kita.

Kesimpulan:
-Uang yang dibutuhkan sekitar 155.000
-Waktu yang dibutuhkan bikin SIM C sesuai prosedur sekitar 3 jam jika tidak ada hambatan.

Dan tips yang tidak kalah penting, jangan sepelekan latihan. Practice makes perfect, sebuah semboyan yang tidak percuma. Terakhir dan yang utama, berdoa kepada Zat Yang Mahamemiliki. Dan jika memang berniat membuat SIM sesuai prosedur, bulatkan tekad dan hapus semua kata-kata oknum yang menawarkan 'bantuan' dengan menjawab ingin berusaha sendiri.

Terima kasih telah membaca pengalaman saya. Semoga berguna bagi kita semua :)

Mari budayakan menjadi warga yang bersih, ciri masyarakat yang sehat. 
Dan katakan TIDAK untuk KORUPSI
Yuk sama-sama membangun masa depan Indonesia yang sukses, ayo mulai dari diri sendiri!

Sunday, April 8, 2012

Ilmu Manajemen dan Seorang Ahli

Suatu ketika saya pernah terlibat perbincangan dengan ibu saya. Topiknya mengenai cita-cita saya. Entah kenapa, setiap kali seseorang makin bertambah usia yang seharusnya makin dekat dengan apa yang ia cita-citakan, kebanyakan orang menjadi bingung dan bimbang dengan apa yang ia cita-citakan, begitupun dengan saya.

Aktif di organisasi adalah salah satu dari kegiatan saya. Sedangkan saya dari kecil sudah bercita-cita ingin menjadi dokter. Namun melihat kegiatan yang saya jalankan saya pernah berkata kepada ibu saya, bahwa sepertinya saya ingin menjadi salah satu anggota DPR ataupun pemerintah, melihat republik yang saat ini memerlukan reformasi birokrasi yang sudah cukup mengenaskan.

Ibu saya tidaklah kaget, dan berkata kepada saya, bahwa apa yang saya katakan memang persis dengan apa yang teman-temannya katakan. Ibu saya suatu waktu bercerita tentang anaknya kepada teman-temannya, dan ketika menceritakan saya yang aktif di organisasi, teman-teman ibu saya banyak yang mengatakan kuliahkan saja di fakultas dengan jurusan yang mempelajari manajemen, maka pasti akan menjadi diplomat sukses. Namun ibu saya mempunyai pandangan lain, bahwa
untuk menjadi seorang yang ahli dalam bidang diplomat, perlu suatu pondasi khusus yaitu ilmu yang benar-benar telah kita kuasai.
Karena seorang diplomat tanpa ilmu dasar hanya akan menjalani kehidupannya dengan janji-janji yang dirinya sendiri mungkin tidaklah paham bagaimana merealisasikannya. Dan mungkin itulah yang terjadi di republik ini, pemerintahan yang banyak mengandalkan orang-orang yang memang ahli dalam manajemen namun tidak memiliki pondasi ilmu khusus yang dikuasi, sehingga progress yang mereka lakukan sangatlah lambat dan tidak efisien.

Itulah sebabnya, kita sebagai seorang manusia, perlu memiliki spesialisasi ilmu tersendiri jika ingin menjadi seorang pejabat. Ibu saya pun menyuruh saya untuk fokus tetap menjadi dokter terlebih dahulu. Dengan menguasai ilmu kesehatan, sehingga lebih bisa mengerti bagaimana situasi dan kondisi sebenarnya di masyarakat, barulah kemudian mengaturnya.
Ketika satu tambah satu tidaklah sama dengan dua


Sunday, December 25, 2011

From Zero to Hero


Sebenernya kalo bisa dibilang ini adalah cerita lama, waktu itu kejadiannya kelas 9, saat saya masih bersekolah di SMPIT Nurul Fikri. Bulan itu kalau tidak salah Februari adalah hari dimana tim kami (saya, ikhsan, hafizia) sedang melakukan final science competition di MAN Insan Cendekia. Final berupa cerdas cermat terdiri dari 3 tim, tim saya adalah tim 1.
Seperti biasa, putaran pertama adalah pertanyaan amplop. Kami mendapat giliran terakhir menjawab. Rasa-rasanya saat itu merupakan peforma terbaik, jadi saya yakin dapat menjawab semuanya. Namun Allah berkehendak lain, ternyata tak satupun pertanyaan yang dapat kami jawab, sehingga perolehan nilai kami 0, sedangkan kelompok lain sekitar 300 dan 400.
Lalu putaran kedua adalah pertanyaan benar salah, dibacakan pernyataan lalu tim menjawab benar/salah. Secara logika berarti peluang untuk benar adalah 50%, karena jika jawabannya bukan benar, maka salah. Ada 15 pernyataan. Tertinggal nilai membuat kami frustasi. Dan ternyata benar, di akhir putaran kami hanya mengumpulkan poin 200, sedangkan tim lain sekitar 700.
Putaran ketiga, disini kami merasa sudah kalah. terlalu jauh selisih dan terlalu kecil peluang mengingat 2 tim lain jago. Putaran ini adalah tawar-menawar waktu, tim yang berani menawar waktu paling sedikit akan diberi kesempatan untuk menjawab soal. Ada 3 pertanyaan, benar +500, salah -250. Dengan berbekal kekuatan hati, kami berhasil menawar paling sedikit waktu untuk pertanyaan pertawa. Ini adalah soal matematika, sederhana namun rumit bukan main. Mungkin soal ini sengaja dibuat untuk menghancurkan mental bagi yang menjawab, karena benar saja kami tidak dapat menjawabnya, dan seketika itu juga kepercayaan diri kami hancur, dengan nilai defisit 50.
Saya berpikir, nilai kami sudah hancur, apa salahnya sekalian menghancur leburkan. Toh jika kalah kami tetap juara 3. Dengan keyakinan ini, kami menawar kembali pertanyaan 2, soal fisika. Sederhana, namun dengan mental hancur akal tak berguna. Dengan asal (entah dapet ilham dari mana) temen saya menjawab. Yah tak apalah, defisit 300. Selisih akan semakin besar. Namun ajaib!!! Jawaban teman saya benar. Saya benar-benar melonjak kegirangan. Entah, seketika itu juga kepercayaan kami langsung melejit, nilai kami sekarang 450, semakin memperkecil selisih. Pertanyaan 3, biologi, bidang saya. Terjadi tawar-menawar cukup alot dengan tim lain, tapi akhirnya kami dapat. Pertanyaannya mudah, saya sangat bersyukur. Saya menjawabnya, dan ternyata benar!!! Tidak dipungkiri lagi, nilai kami sekarang 950. Kami memimpin nilai dengan kepercayaan diri yang kembali dan tambah berapi-api.
Putaran terakhir, soal siapa-cepat-dia-dapat. Singkat cerita kami banyak menjawab, walau banyak salah juga. Ada sekitar 30 soal, +150 jika benar, -100 jika salah. Suasana makin seru, karena sekarang setiap tim masih memiliki potensi menang.
Singkat cerita saatnya penjumlahan nilai. Kami sangat tegang, was-was. Juri mengumumkan nilai. Tim 2 nilainya 1150, sedangkan tim 3 adalah 1200. Sedangkan tim kami nilainya adalah total dari tim 2 dan 3! Bayangkan, tak terasa lagi perasaan kami, begitu gembira.

Kawan, percayalah. Allah akan membantu hambaNya ketika kita sudah menyerahkan diri kita totalitas hanya berharap bantuanNya. Dan itulah kisah nyata saya, nilai -50 menjadi 2250.

Monday, November 14, 2011

Kesehatan dalam Penderitaan

Indonesia adalah negara dengan populasi terbanyak ke-4, kita semua tau itu. Tapi tidak semua kita tahu apa yang dapat diperoleh dari potensi dengan penduduk sebanyak 250juta jiwa, dimana jika tiap penduduk membayar 2000 rupiah maka akan terkumpul uang 500miliar secara instan, hanya Rp2000! Kalau saja setiap orang Indonesia menyisihkan 2000 perharinya untuk disumbangkan, tidak terhitung lagi jumlahnya dalam setahun. Itu untuk uang, belum jika tiap orang Indonesia menyumbang 1butir beras perhari, dan sebagainya, dan sebagainya.
2000 rupiah, benarkah itu angka yang kecil?
Dalam bidang kesehatan, apa yang kita dapatkan dengan uang sekecil ini? Bahkan sebuah abate (sejenis kaporit untuk mencegah nyamuk) satu bungkus kecilnya adalah 3000rupiah, sedangkan dianjurkan digunakan 10 abate untuk satu buah bak mandi.
Dan pepatah orang miskin dilarang sakit memang benar kenyataanya, terlebih orang pedalaman yang miskin. Ya! Ribuan orang Indonesia memimpikan dirinya menjadi dokter, dengan anggapan kerjanya mudah, asik, dan berdalil ingin memajukan kesehatan di Indonesia. Tapi jika ada kebijakan bahwa setiap dokter harus berani berkorban untuk ditugaskan ke wilayah pelosok yang sulit diakses untuk kesehatan, apakah ribuan orang itu tetap berpikir ingin menjadi dokter (sebagian besar dari mereka ingin menjadi dokter yang bekerja di rumah sakit berfasilitas keren, berbalut jas keren, dan disegani) yang memajukan kesehatan Indonesia? Hanya dokter sejati yang tidak akan ragu.
Karena memang begitulah kenyataannya di Indonesia, kesenjangan dalam pemerataan dokter sangat tinggi. Banyak dokter di kota, dan minim di desa. Di daerah-daerah pedalaman, yang mereka sudah cukup menderita untuk hidup, ditambah jika mereka sakit, sulitnya akses kesehatan membuat mereka tidak punya pilihan, kematian adalah jawaban yang terbaik.
Kasus kedua, kesehatan di Indonesia tidak akan maju jika yang ada dalam otak seorang dokter hanyalah duit, menjadi kaya, kerja enak dan hidup terpenuhi. Sehingga orang yang sakit saat berobat ke dokter harus bertambah sakit karena begitu mahalnya kesehatan di Indonesia, dan tidak becusnya dokter dalam menangani mereka (well, tidak semua, sebagian besar). Sehingga bagi mereka yang pas-pasan memilih untuk tetap dirawat di rumah, karena lebaynya dokter kita, dan mereka yang berduit memilih keluar negeri ini. Bukan karena fasilitas di sana lebih komplit, semata-mata bukan. Namun karena dokter di luar sana serius dan mempertaruhkan nyawanya demi seorang pasiennya.
Inikah parodi kesehatan di negeri ini?
Wahai kalian yang termasuk ribuan orang itu, bacalah ini, berpikirlah kembali, dan jangan takut karena Yang Maha Mendengar bersama kita. Bulatkan semangat, kuatkan tekad!!!

An Article Created by Fadhli Waznan

Sepotong Kenangan

Untuk yang berada jauh di sana
Untuk yang berjuang menimba ilmu tak kenal lara
Untukmu temanku yang semangat tiada tara

Ingatkah dirimu dulu saat kita bersama
Merajut mimpi tanpa kenal rasa takut
Memintal harapan tanpa tahu kenyataan
Menerobos derasnya ombak perjuangan
Dulu, itu dulu, saat kita bersama

Mengenalmu membuatku haru
Melihatmu membuatku berseru
Apa hari-hari yang kulewati saat ini tanpamu
Tetap bersemangat berharap seperti dulu

Mengingat hari-hari itu membuatku tersenyum
Mengingat hari-hari itu membuat semangatku terpacu
Mengingat hari-hari itu aku selalu terpicu
Untuk tetap menerobos batu yang menghalang
Sampai saat itu tiba
Dimana janji telah kita torehkan wahai kawan

a Poem Created by Fadhli Waznan

Sunday, April 3, 2011

BELAJAR!!

Ilmu luasnya tak terbatas dan dapat didapat dimana saja. Pepatah biasa yang maknanya sangat dalam. Karena itulah kita disebut manusia yang selalu belajar, karena kita bisa mendapat ilmu yang terdapat dimanapun, kapanpun, dan dari siapapun.

Semakin hari semakin banyak yang bisa saya dapat, terutama dari orang-orang hebat yang berada di sekitar. Karena dengan adanya mereka banyak sifat dan perilaku yang berubah dalam diriku. Mereka memang orang-orang yang secara tidak langsung mengajarkan pada saya apa arti hidup ini. WOW!! Mereka orang-orang SEDERHANA yang LUAR BIASA!!

Oke memang belajar itu tidak akan ada habisnya. Dan cara yang paling efektif apabila kita belajar pelajaran adalah dengan mengajarkannya (loh??). Karena menurut penelitian itulah cara belajar yang paling efektif.

Tapi bagi kalian yang ingin belajar tentang kehidupan, tak perlu jauh-jauh. Cukup lihat orang yang gaya hidupnya sederhana, dan anda akan malu sendiri (seperti saya).

???